Memparafraskan Sarayyy - Papa Acid

 Ia memulai harinya seperti gadis-gadis muda pada umumnya. Saray, jiwa yang lugu, melangkah riang menyusuri etalase kota. Hobinya sederhana: menyesap kopi di sudut jalan baru, menjinjing tas belanjaan kecil, dan membiarkan kakinya pergi ke mana pun angin membawa tawa kecilnya. Baginya, dunia adalah taman bermain yang ramah. Ia tidak pernah menduga bahwa di balik layar-layar gawai yang dingin, sepasang mata—atau mungkin ratusan—sedang menelanjangi privasinya tanpa permisi.

Sebuah potret intim yang seharusnya tersimpan rapat di ruang paling rahasia, kini telah menyeberang samudera digital. Menjadi konsumsi, menjadi bahan tertawaan, menjadi pemuas dahaga bagi jiwa-jiwa yang haus akan kehancuran orang lain.

Seketika itu juga, dunia Saray runtuh. Ruang ganti yang hangat berubah menjadi ruang interogasi yang dingin. Setiap mata yang menatapnya di jalanan kini terasa seperti ujung belati. Ia dipaksa menelan ketakutan, menanggung beban yang tak pernah ia ciptakan, dan berjalan tertatih-tatih di bawah bayang-bayang penghakiman sosial. Di titik inilah, amarah atas ketidakadilan ini harus diteriakkan sekeras-kerasnya:

"Sexting-sexting, orang-orang sinting! Cabul-cabul, otak lo tumpul!"

Sebab, bagaimana mungkin sebuah tindakan keji yang merusak masa depan seseorang bisa dianggap sebagai lelucon atau hal biasa? Mereka yang menyebarkannya, mereka yang mengoleksinya, dan mereka yang menjadikannya bahan gurauan adalah barisan jiwa yang kehilangan nurani. Otak mereka tumpul, tak mampu lagi membedakan antara cinta yang melindungi dengan nafsu binatang yang merusak.

Jika benar ada rasa sayang di balik kata-kata manis yang pernah diucapkan, ia tidak akan pernah berakhir menjadi bahan konsumsi publik. Cinta yang sejati itu menjaga, merawat, dan menuntun dengan hormat hingga tiba saatnya ikatan suci pernikahan mempersatukan.

Kini, Saray berdiri di persimpangan jalan yang sunyi. Ia terluka, ia ketakutan, dan ia merasa sendiri. Namun, ia tidak boleh dibiarkan layu. Saray adalah korban dari monster digital yang tak berwujud, dan tugas kita bukan untuk menunjuk dahi dan menghakiminya. Tugas kita adalah berdiri sebagai perisai di depannya, merangkul jiwanya yang rapuh, dan bersama-sama meruntuhkan tembok-tembokan kebiadaban ini agar ia bisa kembali melangkah, pergi ke sana dan ke sini, tanpa ketakutan yang membayangi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memparafrasekan Tirani Tua - Black Horses

Memparafrasekan Kekal - Nadin Amizah

Memparafrasekan Menua Di Semester - Ubaidilah